Friday, February 7, 2014

MENU MALAM INI


: B..

Waktunya makan malam. Meja makan tlah dialasi dengan kain seputih kapas. Di atasnya, sebatang lilin wangi dan setangkai mawar merah berduri, dipakai sebagai penghias. Lalu, sejuring daging bernama hati, lengkap berdamping kesetiaan, kepasrahan, pengabdian dan ketulusan, kuhidang apik dalam sebuah piring panas. Siap untuk kau iris dan kau cabik dengan pisau dan garpu yang kutata di kedua sisinya, berbatas saat kau puas.

Ya.., mungkin rasa masakan ini tak lagi selezat silam. Sebab bumbu rahasia yang biasanya menjadi andalan, urung kububuhkan. Sudah kadaluarsa, begitu yang tertera dalam kemasannya. Telanjur basi, karena terlalu lama dibiarkan menanti. Sangat riskan untuk dikonsumsi kembali.

Bumbu itu bernama cinta, yang kini berubah rasa menjadi getir setelah manisnya lenyap ditelan sesalan masa. Bila termakan bisa mengakibatkan keracunan otak dan melumpuhkan tubuhmu, juga tubuhku, hingga lemas tak bersisa.

Sebaliknya, sebagai balasan, balok-balok kebisuan kau sajikan di dalam cawan yang biasanya kau isi dengan cairan kepalsuan. Bekunya yang dingin perlahan mencair, lebur bersama panasnya lidah yang kerap mengeluarkan kata-kata satir.

: B..

Jika saat ini yang tersisa dalam dirimu untukku hanyalah dendam dan dengki, maka simpanlah itu dalam sebuah wadah yang tertutup rapi. Agar tetap terjaga selalu kemurnian ikatan rasamu padaku, sampai mati..

Namun aku akan memilih membuang residu itu ke tong sampah, lalu membakarnya mentah-mentah. Hingga hangus menyeluruh, menjadi debu yang kumuh dan tak ingin sekalipun kusentuh..


JP, 31 Oktober 2013
..sembari meniup lilin di meja yang redup menerangi, sebelum beranjak pergi..

Monday, February 3, 2014

DI UJUNG TANJUNG

    ..sebuah karya yang tertuang saat ada di kedalaman..

Fajar menyingsing di ufuk timur. Mengintip malu-malu dengan semburat jingganya di antara gumpalan awan yang sebagian masih menghitam, berbatas garis lautan di kejauhan. Pemandangan yang sangat indah sebenarnya. Pertanda masih adanya harapan, bagi sebagian orang. Namun tidak sepertinya bagiku. Yang sudah tak bisa lagi melihat adanya perbedaan antara gelap dan terang.

Pada akhirnya, takdir mengantarku ke sini. Di tepi sebuah tanjung yang tebingnya menjorok menggantung rapuh tererosi oleh air laut. Aku kini berdiri di ujungnya. Di bawahnya terhampar karang-karang tajam yang siap menghajar dengan tusukan-tusukan maut bagi apapun atau siapapun yang nekat menjatuhkan diri ke atasnya. Sesekali saat pasang, karang-karang itu dihempas oleh gelombang yang menghantam pinggiran tebing, mengikis pijakan daratan di mana aku sekarang ini berada, menyebabkannya semakin tak berfondasi. 

***** 

Kuperiksa kakiku yang terasa pedih. Alas kakiku telah putus di tengah jalan tadi, hingga aku harus bertelanjang kaki melanjutkan perjalanan yang tak berarah ini. Pecah-pecah tapakku. Berdarah, sebagian ada yang sudah mengering dan ada yang masih membasah, diselingi nanah. Anyir semerbak menusuk hidung, memancing mualku akan diriku sendiri.

Kutatap sekujur tubuhku. Gaun panjang hitamku compang-camping dan kumal. Tak berbentuk. Menampakkan sebagian buah dadaku yang menyembul sedikit keluar dari wadahnya dan robek panjang di bagian pahaku hingga ke betis. Tujuh laki-laki yang memperkosaku semalam di atas sebuah jembatan betul-betul buas memangsaku. Tanpa ampun. Membuatku tak berkutik. Liar, bergantian mereka mendulang nikmat dari tubuhku. Sebagian ada yang memegangi tangan dan kakiku yang meronta-ronta, ada juga yang dengan rakus membekap bibirku dengan mulut busuknya yang terbiasa mengeluarkan makian sampah, membuatku ingin muntah. Yang tak kebagian peran akhirnya menjadi penonton yang terbahak-bahak bagai iblis, melihat adegan tragis seperti menyaksikan sebuah drama komedi. Tangisan dan permohonan ampunku yang tak kuasa membendung kesakitan sama sekali tak didengar oleh mereka, hingga akhirnya perih yang terasa di sekujur kulit yang memerah penuh gigitan, kemaluan dan duburku yang lecet teriritasi setelah dinodai, benar-benar menohok benteng ketahananku, memaksaku menuju puncak kepuasan di tengah nelangsa nyeri. Memuncratkan cairan serupa lahar panas yang menyembur ke salah satu muka hina mereka, diikuti oleh lengkingan lolongan panjang yang menyayat. Menempatkanku dalam nikmatnya sengsara yang sekarat. Lemas. Hilang nafas. 

***** 

Kuraba dadaku. Hampa. Isinya, segumpal daging yang bernama hati, telah kutinggalkan di jembatan tempat ketujuh laki-laki tadi menginjak-injak harga diriku. Percuma juga kubawa ke mana-mana, karena sudah tak lagi berdenyut. Mati. Sebentar kemudian juga akan membusuk, digerogoti oleh belatung. Atau mungkin kini onggokan daging itu malah sudah digondol oleh seekor anjing kurap. Lalu binatang itupun mencabik-cabik dan menelan cuilan-cuilannya tanpa perasaan, hingga habis tak bersisa setetes darahpun. Bagus seperti itu, karena rasa hatiku itupun kini telah berubah menjadi pahit bagai rasa empedu. Hasil dari racun-racun yang terhisap olehnya.

Aku termenung, mencoba berpikir. Tapi hey…, ke mana otakku…?? Hhh..., lupa aku... Tadi otak itu sudah kukeluarkan dari tempurung kepalaku saat aku kelaparan dan sudah tak punya sepeser uangpun di dompetku. Kujual ke sebuah warung Padang untuk dimasak gulai kesukaanku, lalu kuminta sepiring nasi di sana sebagai bagian dari imbalannya. Lahap kumakan nasi berlauk masakan itu. Dan cacing-cacing di perutku pun kegirangan menerima kiriman cacahan hasil kunyahan otakku yang bercampur nasi, mengisi perut laparku. Kenyang akhirnya aku terkapar, oleh asupan organ penting tubuhku sendiri. Tinggal menunggu perutku mulas, hingga otakkupun mengalir keluar dari usus besarku lewat anus dan terbuang ke jamban.

Kuseka air mata yang masih saja meleleh di wajahku yang bercampur debu. Kumuh. Kuambil sebuah kaca kecil dari kantong kosmetik dalam tasku. Wajah yang biasanya terpoles oleh warna-warni merona kini terlihat begitu kuyu. Mata yang biasanya binal, tajam dan hidup, menyihir dan menyergap siapapun yang tertangkap olehnya, kini tersisa hanya sembab dan sendu. Rambut panjangku kusut masai, seakan di dunia sudah tak ada lagi yang menjual sisir. Bibir yang biasanya terus mengumbar tawa lepas, menutupi kepiluan yang membelit, sudah bosan memakai kedoknya. Pasi, tanpa ekspresi. Mulutpun terkunci di kedalaman sebuah rahasia, antara Dia dan aku. Tafakur bercengkerama dengan suara dalam diri, mempertanyakan banyak hal yang tak pernah ada jawabnya, hingga senja menjelang dan langitpun kembali kelam. 

***** 

Angin mulai bertiup kencang. Dingin. Membuat tubuhku yang sedari tadi tak bergerak menjadi kian kaku. Seakan berdiri kokoh tak tergoyahkan. Padahal itu terjadi bukan karena aku tegar, namun karena sudah tak ada pilihan. Mau melangkah ke mana kinipun aku sudah tak tahu. Sementara hantu masa lalu terus saja nampak menakutiku, mencakar-cakar punggungku. Membelenggu pergelangan kakiku, seperti terpasung. Sumsum rasanya sudah habis disedot oleh penderitaan berkepanjangan yang rindu penyelesaian. Lalu melunglaikan tiap sendi-sendinya, pelan-pelan terduduk lenyap daya. Gontai.

Menengok aku ke belakang. Ada satu sosok berbayang di kejauhan. Gambaran siluet kesempurnaan yang kuimpikan. Tersenyum aku. Sudah waktunyakah, Tuhan...?? Hingga kau kirimkan malaikat untuk menjemputku...?? Tanganku menggapai sosok itu, namun ia hanya diam. Oowh..., ada sosok lain di sampingnya. Cantik, sepertinya seorang bidadari. Mendampinginya. Tangan mereka bergandengan. Salah sepertinya perkiraanku. Perempuan kotor sepertiku mustahil dijemput oleh malaikat. Bahkan mungkin raja setan dari kerak nerakapun tak sudi melakukannya untukku. Kalaupun mau, ia hanya akan menyentuhku saat hendak mematahkan sayap-sayap harapan yang nyaris terkembang, lalu mendorongku ke dasar jurang neraka jahanam agar bisa menemaninya kekal di sana. Terkubur bersama kekecewaan-kekecewaan paling dalam yang pernah kurasakan, berikut segala problemanya yang hingga kini tak jua tuntas terselesaikan. 

***** 

Waktu merambat makin larut dalam pelukan petang. Samar, mataku menangkap sebuah sinar berpijar dari kejauhan. Kuperhatikan dengan lebih seksama. Ternyata cahaya yang berasal dari lentera sebuah bahtera yang hendak merapat ke bibir pantai. Namun bahtera itu tak pernah bisa berlabuh, melepas jangkarnya untuk menurunkan penumpangnya ke daratan. Karang-karang terjal di sepanjang pinggir pantai ini terlalu kejam menghadang bahtera itu untuk singgah, walau hanya sebentar. Dan musnah sudah sejumput harapan untuk sekedar hanya menemukan satu manusia untuk teman bicara saja, sebab bahtera itupun putus asa dan kembali berlayar, entah hendak ke mana..

***** 

Tiba-tiba, tanah yang kupijak bergetar hebat. Bumi bergoyang. Membuatku limbung. Tanah merekah sebagian. Tak ada sesuatupun yang bisa kujadikan pegangan atau sandaran. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan.

Tak lama kemudian, goncangan itupun terhenti. Tenang aku, untuk sementara. Ya, hanya untuk sementara. Sebab setelah itu, di kejauhan kulihat gelombang pasang besar menghadang. Bau amis mulai tercium memuakkan. Kali ini, aku tak sanggup menahan tawaku.

Selesai sudah, tamat riwayatku. Dan akupun merelakan diriku digulung ombak yang ganas menelanku, hanyut ditelan waktu. Begitu juga bahtera yang tak sempat berlabuh di pantai tadi, ikut tenggelam dihajar gelombang. Sebelum semuanya gelap, sempat aku memandang sisi di mana malaikat dan bidadarinya tadi berdiri. Ternyata merekapun tlah lenyap. Mungkin juga mereka memang tak pernah ada. Hanya halusinasiku saja. 

***** 

Inilah pucuk pencarian. Terlepasnya aku dari borgol-borgol yang mengikat sukmaku. Lega, usai sudah penantian. Terbebas dari raga yang menghambat perjalanan. Terurai dari nafsu yang selama ini mengangkanginya. Terbang, bersama jiwa-jiwa suci yang mengawalku menuju titian nirwana. Walaupun demi Tuhan, jika saja aku bisa memilih, aku tak ingin hidupku berakhir tenggelam tanpa perlawanan, juga tanpa satupun tanda bahwa aku pernah hidup di dunia, seperti ini. Tak ada nisan. Tak ada suara yang tersisa. Hanya Dia yang tahu, apa yang kumau dan terbisikkan dalam rongga dada yang kini kosong tak berpenghuni.

Dan mayatku pun tak punya makam. Moksa. Tak berbekas. Namun jiwaku tetap hidup. Abadi. Hingga akhir zaman. 

Ruang Sunyi, 25 Mei 2011
..karena hidup adalah pilihan.. 

~cerpen favorit saya dalam buku "Maaf, Kupinjam Suamimu Semalam"~

Friday, February 8, 2013

CINTA



Katamu cinta itu seperti rokok 
Terasa asam di mulut 
Jika lama tak kau hisap 
Tak seperti yang kupikir 

Cinta bagiku seperti endorphin 
Ciptakan surga di kepala 
Tak kenal luka 
Hanya tahu akan bahagia 

Karena cinta adalah rasa 
Bukan seperti rokok yang kau hisap dalam-dalam 
Lalu asapnya kau hembus pelan kemudian menghilang 
Dan puntungnya begitu saja kau buang 

Karena cinta adalah sensasi abadi 
Nyata, walau tak bisa diraba 


Kelapa Dua, 1 Februari 2010


~ Gambar diambil dari karya Billy Nasution ~

Sunday, August 26, 2012

DROWNING


Pada serpihan yang kau tinggalkan
Aku tetap utuh

Tenggelamlah kau bersama dendam
Yang kan menghantuimu tiap malam

Maka merataplah, sayang..
Karena aku terlalu sulit untuk kau bunuh


Ruang Hitam, 26 Agustus 2012

Monday, July 30, 2012

RAJAWALI


Terbang..
Terbanglah ke mana saja yang kau mau
Menukiklah..
Bidik, terkam, lalu cengkeramlah mangsamu
Bentangkan..
Sayap-sayap pesonamu peluk bahu para pemburu
Hinggap..
Hinggaplah di gumpalan mega yang ganas menggulung nafsu

Reguklah air dari sumur-sumur neraka
Yang hingga kini masih saja kau lihat sebagai mata air surga
Sarang kan coba menanti
Saat nafas membawamu kembali

Karena yang tercatat dalam Lauh Mahfudz 
Takkan pernah bisa terhapus 

Pondok Pinang, 30 Juli 2012

Friday, June 29, 2012

PULANG




perang itu tlah usai
dan aku pun pulang
tidak dengan langkah gontai
namun dengan hati lapang

bendera putih dikibarkan
biarkan mereka tertawa dalam kemenangan
hingga sampai pada titik kesadaran
bahwa yang didapat hanyalah sebuah kehampaan


Pondok Pinang, 29 Juni 2012
..menjelang hijrah..

Tuesday, June 12, 2012

DREAM COME TRUE, PART 1

Kemarin siang, saya seperti merasakan sebuah ecstacy yang luar biasa. Antara sadar dan tidak. Melihat tumpukan buku sebanyak 1000 eksemplar, pin yang akan saya bagikan sebagai tanda terima kasih untuk 500 orang pertama yang sudah berkenan mengapresiasi buku saya, juga surat jalan pengambilan buku yang siap saya tanda tangani. 


Saya sampai bilang begini ke mas Oki Putra dari Hi-fest Group, yang selama ini sangat membantu saya. "Mas, kalau saya anak kecil, pasti saya sudah jingkrak-jingkrak sekarang ini." Mas Oki pun  ikut tertawa bersama saya. Hmm..., endorphin pun langsung naik ke kepala saya, membuat nyaman seluruh tubuh saya. Rasa lelah yang mendera saya belakangan ini karena sibuk mengurus kepindahan kami sekeluarga ke Jogja dan juga persiapan peluncuran buku pun langsung hilang oleh hawa sumringah yang menyelimuti hati saya siang itu.

*****

Minggu ini, waktu pada akhirnya mengantarkan saya memasuki babak baru dalam proses hidup saya. Proses yang sungguh saya nikmati betul setiap bagiannya. Hasil pada akhirnya memang akan didapatkan, tapi bukan menjadi tujuan. Paling tidak, buku ini menjadi jawaban yang saya berikan kepada orang tua saya yang beberapa tahun belakangan ini mempertanyakan langkah saya beralih ke 'dunia lain' yang selama ini belum bisa mereka mengerti, karena sayapun tidak banyak bicara untuk membuat mereka mau mengerti. Hanya dalam hati saya yakin, suatu hari nanti saya akan memberikan bukti. Dan alhamdulillah, inilah saatnya.

Niat baik, insya Allah akan diamini oleh semesta raya. Itu saya rasakan betul. Begitu banyak orang-orang yang membantu saya dalam proses terwujudnya mimpi saya ini. Terutama nanti pada saat launching, di mana saya benar-benar sangat bersyukur menjadi bagian dari sebuah komunitas yang sangat mengedepankan asas kebersamaan seperti Komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia (KPSI). Semoga, momentum launching buku saya nanti menjadi rantai yang makin mempererat persaudaraan kami. Juga hasil penjualan buku ini, bisa menjadi amal kita bersama dalam membantu saudara-saudara kita yang terkena schizophrenia syndrome. Semoga Tuhan memberkati.

Bersama ini, saya mengundang teman-teman untuk berbagi kebahagiaan dengan saya dan keluarga besar KPSI dalam acara peluncuran buku saya tanggal 17 Juni 2012 nanti, mulai pukul 5 sore, di Museum Layang-layang, Jl. H. Kamang No. 38 Pondok Labu Jakarta Selatan. Silakan datang beramai-ramai. Kami tunggu kehadirannya


Friday, June 1, 2012

BERAWAL DARI MIMPI


Saat ini saya sedang bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya, apa yang saya impikan dan perjuangkan selama hampir 3 tahun ini, hampir mendekati kenyataan. Setelah melewati begitu banyak rintangan.

Beberapa tahun lalu, tulisan-tulisan saya hanya teronggok di sebuah secret blog, di mana hanya teman-teman terdekat saya saja yang bisa mengaksesnya. Pada dasarnya memang saya seorang yang introvert, sehingga lebih suka mengungkapkan pemikiran-pemikiran saya yang saya sadari cenderung abnormal dan sulit dimengerti oleh orang awam, ke dalam tulisan. Saat itu saya masih 'berprofesi' sebagai bakul kue online, yang memasarkan produk-produknya melalui sebuah situs pertemanan di Multiply.

Hingga pada suatu hari, teman saya Dini, pemilik La Difa Cookies, menyeret saya ke pusaran dunia sastra (dan setelah itu dia malah kabur begitu saja ke dunia pelayaran,hahaaa..sial kau,Din..). Dia mendaftarkan saya untuk belajar menulis di Sekolah-Menulis Online milik mas Jonru Ginting, yang saat itu hendak mengadakan workshop tentang dunia penulisan di sebuah hotel di kawasan Tebet. Kalau tidak salah, kejadiannya sekitar bulan Januari 2010. Dari sanalah saya mengenal mas Epri Tsaqib yang kemudian memperkenalkan saya dengan Komunitas Mata Aksara, Sastra Reboan, dan teman-teman lainnya yang memberikan 'nafas baru' bagi perkembangan gaya penulisan saya.

Sejak memutuskan untuk beralih jalur ke dunia tulis menulis, saya membuat sebuah dream blog, di mana isinya hanya saya dan Tuhan yang tahu. Saya rancang apa yang saya mau di sana, dan membiarkan waktu membuktikan pada masanya, apakah Ia mengabulkan permintaan saya atau tidak. Alhamdulillah, 1 demi 1 apa yang saya tulis di sana terlaksana. Hampir bersamaan dengan terbitnya buku saya, sebulan kemudian saya pun kembali ke kota tempat saya menghabiskan masa kecil saya, seperti yang saya tulis di blog saya tersebut. Kota yang saya rancang menjadi tempat saya menghabiskan sisa hidup saya, dengan segala kemampuan yang saya punya. Yogyakarta.

Ada sebuah tempat yang selalu saya rindukan di sana. Sebuah tepi jurang di Kaliurang, dengan dataran berumput tempat dulu saya sering menghabiskan waktu dengan duduk melamun sendirian hingga hampir petang, saat perasaan saya sedang tidak nyaman. Ke sanalah saya selalu 'pergi' dengan pikiran saya, tiap kali saya sedang merasakan hal yang sama. Dan dalam bulan depan, insya Allah saya tidak lagi hanya membayangkan tempat itu, tapi bisa dengan mudah mencapainya.

Tuhan memang sangat sayang kepada saya. Selalu memberikan apa yang saya minta, walaupun sering Ia melatih saya supaya bisa lebih bersabar agar saya mendapatkan yang terbaik, seperti yang Ia mau. Sungguh, saya merasa begitu 'kaya' sekarang ini. Memiliki anak-anak yang men-support saya dengan pengertian mereka yang sangat luar biasa, bisa mewujudkan mimpi saya menjadi penulis dan 'penyanyi dadakan' seperti yang saya inginkan saat saya kecil dulu, walaupun dengan suara pas-pasan Paling tidak, saya tidak akan mati penasaran meskipun nanti ini mungkin menjadi 1-1-nya karya saya yang terpublikasi dalam bentuk buku. Namun semoga saja tidak. Semoga saja masih ada dan masih banyak lagi yang akan saya tulis nanti, yang akan memberikan manfaat yang jauh lebih baik dari 'tulisan gak penting' di buku pertama ini. Semoga kali ini, Tuhan kembali mengabulkan permintaan saya   

Kini, ijinkan saya mempersembahkan karya pertama saya ini yang tentu saya masih jauh dari sempurna. Sebuah buku yang menyelamatkan saya dari schizophrenia syndrome dan menjadi self healing serta penyeimbang mental saya, sehingga saya bisa tetap bersikap 'normal' di tengah 'ketidakwarasan' saya. Semoga 'cara sesat' saya ini bisa diambil hikmahnya. 



Buku Antologi Cerpen Tunggal "Maaf... Kupinjam Suamimu Semalam" ini, insya Allah akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 17 Juni 2012 di Musium Layang-layang, Jalan H. Kamang No. 38 Pondok Labu Jakarta Selatan, mulai dari jam 5 sore. Silakan teman-teman semua datang untuk bersama-sama dengan saya berbagi kebahagiaan kecil saya ini. Saya tunggu kedatangannya.


Note :
Acara ini akan berbarengan dengan acara rutin komunitas yang selama ini sangat mendukung proses kreativitas saya, Komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia (KPSI). Terima kasih yang tidak terhingga kepada semua teman-teman saya yang tergabung di komunitas ini. Juga kepada mami Endang Layangan, Hifest Publishing, Kinomedia Writer Academy. Tak lupa kepada mbak Ati Kamil, mas Jodhi Yudono dan mas Amir Roez serta kak Nana Bayek dan kak Kiki Fikri yang sudah membantu saya di bagian musiknya, mas Bagus Utomo dan mbak Tika Prasetiawati dari Komunitas Peduli Schizophrenia Indonesia (KPSI) yang juga telah membantu menguatkan hati saya untuk akhirnya berani mem-publish buku ini setelah sebelumnya sempat ragu. Special thanks juga untuk my brader Billy Nasution, atas kesabarannya selama ini mendampingi saya di setiap masa sulit saya (sori ye..udah selalu jadiin lo 'tempat muntahan' gw,hahaaa..)

Last but not least, buku ini tak akan ada tanpa ridho kedua orang tua saya dan juga kedua anak saya, Naufal Fadhilla dan Zakia Aura Fajriana. Love you all...  

~n' 4 u too..who gave me those wonderful kids..thanks a lot..~



Monday, May 28, 2012

PUISI-PUISI SAYA DI GEMA PUBLIK


Ada yang terlewat dari catatan saya. Sudah terpikir untuk saya tulis, namun karena tertunda menjadi terlupakan begitu saja. Padahal ini kejadian penting dalam perjalanan 'karir' saya sebagai seorang penulis.

Untuk pertama kalinya, karya saya dimuat di sebuah media massa. Mas Da Dan dari tabloid Gema Publik yang berbasis di Banten, akhirnya berkenan memberikan apresiasi terhadap beberapa puisi yang saya muat di dalam blog ini dengan meminta secara pribadi melalui inbox akun FB saya.

Tentu saja saya dengan senang hati memberikan puisi-puisi saya. Bagaimana tidak, sangking putus asa karena karya-karya yang saya kirimkan ke berbagai media massa selalu ditolak, akhirnya saya memutuskan untuk menerbitkan buku kumpulan cerpen saya secara indie. Memang perlu waktu dalam mengumpulkan dana yang tidak sedikit dalam mewujudkan impian saya ini, tapi alhamdulillah jalan menuju ke sana kini makin terbuka.

4 puisi saya, yaitu Jalan Surga Di Balik KelamKita, Mawar Terakhir dan Keakuan, menjadi pilihan mas Da Dan untuk dipajang di halaman terakhir rubrik Sastra dan Bahasa di tabloid tersebut pada akhir bulan Maret 2012 lalu.

Terima kasih mas Da Dan... Semoga tabloid Gema Publik makin diterima oleh masyarakat Banten dan bisa selalu menjadi wadah bagi apresiasi sastra Indonesia 


P.S. Ada tambahan. Ternyata karya saya yang lain bulan ini dimuat lagi Yang dapat giliran kali ini prosa pendek Percakapan Ibu dan Anaknya, ditambah 2 puisi : Kematian dan Deja Vu. Alhamdulillah... Terima kasih sekali lagi ya mas Da Dan...




Saturday, May 26, 2012

UNTUK TUANKU YANG BUDIMAN



Aku memang lontemu 
Budak nafsumu 
Pemuas birahimu 

Tapi sadarkah kau.. 

Aku bukan barang 
Tak ingin diperlakukan sembarang 
Punya perasaan 
Perih hanya dianggap mainan 

Inginku kau gerayangi perhatianmu 
Bukan hanya kau remas bukit indahku 
Beriku kehangatan rasa 
Tak hanya kau dulang jurang nikmatku saja 

Lembaran-lembaran rupiah 
Kau taruh di sisi ranjang 
Itukah yang kau pikir ku butuhkan..?? 

TIDAK..!! 
BUKAN ITU..!! 

Ku rindu kau belai sukmaku 
Mengiring sentuhan tanganmu di kulitku 
Ku haus kau senggamai hatiku 
Saat sinkronkan tubuhku dengan tubuhmu 

Kecup mesra harga diri 
Endapkan nyaman di batin Tak merasa cuma menjadi mesin 
Tergapainya puncak sensasi dan fantasi 

Pasrahku 
Dalam kangkangan kuasamu 
Jika kau sanggup lakukan itu 


Kelapa Dua, September 2009

Saturday, May 12, 2012

KEMATIAN



Kita harus berhenti di sini 
Rehat untuk tuju arah berbeda 
Kau ke kiri, aku ke kanan 
Berjalan, entah adakah tujuan 

Sampai pada satu titik 
Yang mungkin kan memaksamu kembali 
Mencari 
Atau menemukanku lagi 

Dan saat itulah 
Kematian datang padamu 

Terkulai 
Dalam pelukku 


Pondok Pinang, 12 Mei 2012

Monday, April 23, 2012

DEJA VU


Kutatap, mata itu
Menelusur kalbu
Coba gali yang tersembunyi
Apa yang ada dalam hati

Hangat, rengkuhan itu
Ada nyaman yang selama ini hilang
Terbang bersama bayang
Membungkus selimuti rindu

Kurasa, sentuhan itu
Mendesir
Menjalar di selapis tipis bawah kulitku
Bagai sebuah ritme yang pelan mengalir

Karma mencinta jiwa-jiwa petualang
Punya biasa tambat hati lalu lukai dengan jalang
Bawa melayang jauh ke awang
Lalu hempas keras ke dasar jurang

Ikrar kupegang kencang
Walau masih jadi bayangan
Jika ini memang bodohnya khayalan
Cepat kunanti sadarku datang


Ruang Hitam Putih, 23 April 2012
..untuk satu memoar tak terlupakan..

Saturday, April 7, 2012

FLEETING SOUL


Fly…fly away… 
Far…far away… 
The believe that still be saved in my deepest heart 
The crave that still flush in my soul 

Wish You 
Drop the ease with Your Love 
Quench the thirst with Your Touch 
Keep me safe with Your Care 

Can’t leave 
Guilty feeling that push me into the bloody pain 
Ball of sins that trap me back to the blackest past 
Lingers me 
From the chance of a better life 
From the raise of a higher step 
From the move of a grower mind 

Distracted 
Disordered 
Empty 
Dying 
Worthless 
Breathless 
Numb 
Dumb 

Fatigue, but couldn’t sleep 
Weak, but have to fight 
Faint, like almost dead 

So tired being here 
But can’t go anywhere 
Like a prisoner 
Being caged in the jail 
Hope not forever 

All things look untruth 
Clapped me to the bluff ruin 
And it seems too late 
Moving back from the fact 


Purple Room, June 9, 2010 
..in the deepest madness..

Friday, April 6, 2012

POLIGAMI


Perempuan ditakdirkan mulia
Hanya untuk satu laki-laki saja

Tapi laki-laki ditawarkan menjadi murahan
Jika mau dibagi untuk empat perempuan


Kelapa Dua, 13 Maret 2011

Thursday, April 5, 2012

ADA DI MANA-MANA



..kau.. 

Mengawasiku tiap detik 
Buat aku tak berkutik 
Bulu kudukku sampai bergidik 
Ketakutan untuk melirik 
Padahal aku sangat suka pada sesuatu yang menarik 

Seperti hampir gila kurasa 
Melihat bayanganmu ada di mana-mana 
Terpajang di dinding kamarku 
Terpampang di billboard-billboard pinggir jalan 
Berpose di etalase-etalase toko 
Menyamar di kepala-kepala mereka 
Ada di mata-mata yang menatapku 
Bahkan di bibir-bibir yang menciumku 
Di tangan-tangan yang menjamahku 
Hingga di kakus yang jadi tempat buangan hajatku 
Kau tetap mengikuti aku 


Kamar Ungu, 29 Juni 2010
..tuhan..hantu..??


 ~Picture's taken from here~

Monday, April 2, 2012

SEBATANG ROKOK DI KALA HUJAN


Rinai hujan mengguyur halaman depan 
Menambah dingin tubuh yang kelaparan 

Secangkir kopi susu terhidang di meja 
Namun sebatang rokokpun tak lagi tersisa 

Andai kau ada 
Mungkin aku tak butuh lagi menghisapnya 


Kamar Ungu, 20 Maret 2011 


~photo's taken by Pratiwi Setyaningrum~

Thursday, March 15, 2012

SALAM UNTUK KEMATIAN


Kepada kematian yang semakin mendekat
Kuucap salam
Dan tolong, tunda dulu ajak aku berangkat
Usai bisa kuhapus jelaga yang menghitam


Ruang Sunyi, 15 Maret 2011
..happy birthday to me..

Ilustrasi Musik : Jodhi Yudono 
Puisi yang Dimusikalisasikan : Doa - Chairil Anwar

Thursday, March 1, 2012

BINTANG DALAM SEBUAH HATI


Hari ini menjadi hari yang penuh emosi. Segala rasa bercampur aduk dalam dada, amati tiap kejadian yang terihat di mata. Marah, sedih, bingung, senang, gemas, kecewa, bahagia. Semua seakan berlomba, bergantian mengisi hati, hingga akhirnya mencapai titik kulminasi dan menjadi datar. Hambar. Gamang. Berujung pada kematian rasa. Dingin. Memadat. Beku. 

Serasa ada godam berkali-kali pukuli kepala. Serasa ada belati yang mengoyak-ngoyak hati. Serasa ada suntikan jarum menyedot darah hingga ke sumsum. Sakit..?? Lemas..?? Tidak..!! Terlalu terbiasa alami ini. Hingga akhirnya hanya tinggal tawa sumbang terdengar dari mulutnya, di sela teriakan kecil seiring tangisan yang sempat tlah tak terbendung lagi. 

Nanar, mata redup itu memandang tak tentu arah. Entah apa yang dicari. Mungkin coba temukan jawaban, atas segala pertanyaan yang menyeruak di kepala. Sia-sia. Hanya diam, tak ada suara yang terdengar. Ditatapnya langit. Gelap. Hitam pekat. Tak ada satupun bintang yang bersinar, seperti ditelan oleh kelamnya malam. Pertandakah matinya segala asa dan angan..?? 

Wajah muram tanpa ekspresi itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tak mau biarkan mimpi-mimpi yang terangkai indah dan sudah ia susun dengan terprogram rapi menjadi tak berarti. Lalu tiba-tiba ia tersadar akan kesalahannya. Fatal, kesalahan itu. 

Begitu sibuknya ia melihat dunia luar, yang kasat mata terlihat penuh warna dan corak. Namun sebenarnya, saat ia amati dengan seksama, semuanya itu hanya kosong. Polos. Seperti kertas putih tanpa tulisan. Bagai ruang hampa, tanpa udara. 

Tersenyum dia akhirnya. Mulai mengerti ke mana ia harus mencari. Bukan di luar, namun di dalam. Matanya kemudian terpejam. Coba selami hingga ke dasar. Selang beberapa waktu kemudian iapun terpingkal-pingkal sendirian, menyadari betapa tololnya ia selama ini. Ternyata tak perlu terlalu jauh untuk mencari penerang jiwa. Sebab, di ujung perenungannya kini ia baru mengerti, jika cahaya itu ternyata sudah ia miliki sejak dini. Cahaya bintang. Bukan di langit, yang membuatnya tengadah menerawang. Namun di sini, di bilik hatinya sendiri.

Dan tiba-tiba petirpun menggelegar. Langit seperti mengiyakan. Disusul dengan hujan besar. Waktu  yang menurut firman sangat tepat bagi diijabahnya segala pengharapan.


..dini hari..di duapertiga malam..

Sunday, February 26, 2012

BERAKHIR DI JOGJA


Di kaki Merapi 
Kubayangkan semua berujung 
Berbalur hawa sejuk dingin 
Dengan kau sebagai penghangatku 

Dan di sanalah, sayang..
Kita kan terkubur dalam satu lubang 


 ..lebur dalam khayal..
..di tengah kantuk yang tak kunjung datang..

Friday, February 24, 2012

KALA RAGA TERPISAH


Tak pernah kupandang kasat dirimu
Menerawang dalam dimensi semu

Tak bisa kusentuh
Tak bisa kudekap
Tak bisa kucium
Namun meraga sukma

Menyusup auraku sinkron auramu
Melukis lekuk tubuhku di tempurung benakmu
Memahat paras tegasmu hiasi relief imajiku
Biar jasad tak mungkin berpadu

Suatu waktu
Jika reinkarnasi berlaku
Bilakah kita kan menyatu
Di sebuah melodrama yang berpihak padaku


Kamar Ungu, 17 Juli 2010